*Happy Reading*
Saat suara riuh merambat masuk dalam telingaku, aku masih sibuk terpaku pada sesuatu yang seakan telah membuat bahagiaku beranjak pergi dan menjauh dariku, semilir angin menerobos wajahku yang tengah bertopang ditiang pembatas lantai atas ruang perkulihanku. Hanya bisa menatap mereka dari kejauhan, sosok pria yang raut wajahnya tampak membakar semangat memetik gitar mengiringi alunan nada yang mendayu dari gadis berambut panjang kecoklatan yang tepat disebelahnya. Suara riuh penonton yang menyatukan respirasi mereka dalam sesak. Dibawa mereka seakan bersorak bahagia diatas tangis hatiku.
“Eh Ve kenapa diem aja disini, yuk turun kebawah liat Festival Band” Ajak Salsa
“Iya kayaknya seru, liat deh Ka Hans sama Ka Felly cocok serasi banget deh mereka berdua” Sambung Lita
“Ya iyalah secara merekakan emang pernah jadian”
“Ouuwwh mungkin sekarang mereka”
“CLBK” Tungkas mereka berbarengan seraya saling menatap
Ya.. seakan ucapan mereka bagai sembilu mengiris isi hatiku.
Sakit
Perih
Pilu
Ya itulah yang kini melukis hatiku. Rasanya ingin aku menggbrak pentas di bawah sana dan mengatakan kepada semua orang yang ada kalau Kak Hans yang tak lain adalah kakak tingkatku itu adalah MILIKKU. Huuuhh tapi, ya sudahlah aku sendiri yang memintanya yang untuk merahasiakan semua hubungan kami. Aku tak ingin hubungan kami menjadi konsumsi semua mahasiswa kampus ini terlebih Kak Hans adalah cowok populer dikampus ini.
Beruntung sempat memilikinya, bukan karna aku hanyalah wanita biasa dan mendapatkan sosok pangeran kampus seperti Hans tapi aku merasa beruntung karna bisa memiliki pria yang sangat aku cintai sejak dulu, pria dengan sejuta pesona. Dialah sosok yang bisa membuatku bahagia.
Ahh sepertinya tidak juga. aku tak seberuntung itu, kini aku merasa terluka atas cinta diam-diam ini
Tap
Tap
Tap
Kami turun berbarengan menapaki anak tangga dan kemudian aku merasa ada susuatu yang menganjal di kakiku.
DAN
“Aww” Pekikku kesakitan dan tangan kananku cekatan menopang tubuhku yang sudah tak memiliki keseimbangan lagi.
Semua mahasiswa menatapku dengan penuh keanehan, kemudia tawa mereka menyeruak bersamaan dan membuat alunan musik syahdu yang dilantun Kak felly mendadak berhenti. Mataku hanya berpusat pada wajah Hans yang memerah padam ia bangkit dari posisi duduknya tadi. Ya Tuhan sepertinya ia sangat kesal dan sangat malu memiliki kekasih bodoh sepertiku, desir batinku memuncak.
Aku mencoba bangkit dengan perasaan yang seakan akan runtuh. Sepotong hati yang telah hancurlayaknya potongan puzzel itu kucoba susun rapi dan kubalut dengan senyum tipis. “Maafin aku Hans, aku tidak pantas menjadi kekasihmu” Bisiku dalam hati.
“Ve !! Kamu mau kemana ?” Bentaknya
Aku hanya mematung memalingkan wajahku darinya, sungguh aku tak sanggup melihat wajah itu. Jangan mendekat ! jangan mendekat hans pintaku berbisik, jangan melihat kebodohanku lagi, batinku kian teriris.
“Ve!” Panggilnya dan mendekatiku, seketika aku menepis tangannya
“Sudahlah Hans” Tegasku yang kini masih bicara membelakanginya, kristal bening mencoba menerobos panjdanganku tapi sekuat tenang aku menahannya
“Kamu mau kemana Ve, lihat tanganmu berdarah” Ucapnya lembut menarikku dan membenamkanku tubuhku dalam pelukannya.
“WHAAAAATTTT!” Mungkin seuntaik kata itulah yang melintas dalam benakku dan semua mahasiswa yang kini melihat kelakuan Hans. Aku meronta melepaskan tubuhku dari cengkraman pelukan erat Hans.
“Lepaskan aku Hans” Ucapku berbisik
“Gak akan! Dasar gadis ceroboh” Ia menarik tanganku dengan kasar dan menghapus darahku dengan Kemejanya putihnya. Terlihat bercak darah segar yang mengalir dari kedua telapak tanganku melekat dikemejanya.
“Ya Ampun Hans Jangan lakukan ini”
“Panggil aku KAKAK” Ucapnya mendekati wajahnya, yang membuat rasa takut menyusup dicela otakku, memang aku tak ingin memanggilnya kakak padahal ia 2 tahun lebih tua dariku.
Kini Ia menyeret tubuhku bergerak menuju panggung.
“Lepaaaaskaan aku Hans” aku terus menarik tanganku dari cengkramannya tapi sepertinya sia-sia tenaganya terlalu besar untuk ku tandingi.
“Kak Hans Please! Jangan lakukan ini”
Matanya mengembang, semerbak berbinar mendengar ucapanku tadi.
“Memangnya ucapanku ada yang salah” ucapku bingung
Ia menarikku lagi, Hans..Hans apa yang pria ini akan lakukan.
Semua mata kini menatap kami di atas panggung. Aku hanya menunduk malu, aku tak mengerti apa yang akan dilakukan Hans.
“Baiklah semuanya, disini saya Cuma mau bilang kalau Ve, ya Vennya Ramda ini adalah kekasihku”
Hah! Apa yang ia katakan, ucapku kaget. Seketika wajahku memerah. Ia benar-benar sudah menjadikan aku seperti dagangan pasar malam, seperti menjajajarkan udang goreng disekitar keramaian.
“Jadi jika kalian mentertawakan orang yang sangat aku sayang seperti itu tadi aku sangat-sangat tidak akan rela”
Tak henti-hentinya aku menggeleng kepala mengisyaratkan agar ia menghentikan kekonyolannya.
“Dan Buat kamu Ve sayaaang!!!. Sudah saat nya mereka semua tahu kalau kamu itu adalah milikku. Aku tahu kamu sangat geram saat mereka bicara a, b, c, dan sebagainya tentang aku sama Felly. Sekali lagi saya tegaskan saya tidak ada apa-apanya dengan felly, kami hanya satu Band. Bukankah begitu Felly ?”
“Ya benar sekali” Sambung Felly
“Jadi karna kalian sudah mentertawakan Ve dan juga saya melihat ada yang mencibirnya. Sekarang kalian minta maaf dengan Ve” Ucapnya dengan suara lantang memecahkan keheningan yang masih membias dilapangan ini.
Lama mereka mematung dan beberapa pasang bola mata mereka saling beradu, kemudian mengisyaratkan sesuatu.
“OK”
“Sorry ya Ve” Ucap mereka serentak
Aku hanya mengangguk lega.
“Ya udah gimana kalau sekarang kita suruh bassis kita ini yang nyanyi, setuju gak” Ucap felly mecoba mencairkan suasana
“SETUJU” ucap mereka serentak yang membuat Hans tegelalap kaget.
“Gak-gak aku gak bisa nyanyi he he” Ia membentang tangannya mencoba menolak lalu berinisiatif menarik tangan ku turun dari panggung ini, dengan erat ia melrangkul ku menembus kerumunan mahasiswa. Oh Tuhan sepertinya burung-burung juga ikut berkicau bahagia mengiringi perasaan yang mengukir hatiku.
Akhirnya kami sudah merobohkan tabir rahasia cinta diam-diam ini.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar