Selasa, 18 Juni 2013

Cinta Diam-diam

*Happy Reading*

Saat suara riuh merambat masuk dalam telingaku, aku masih sibuk terpaku pada sesuatu yang seakan telah membuat bahagiaku beranjak pergi dan menjauh dariku, semilir angin menerobos wajahku yang tengah bertopang ditiang pembatas lantai atas ruang perkulihanku. Hanya bisa menatap mereka dari kejauhan, sosok pria yang raut wajahnya tampak membakar semangat memetik gitar mengiringi alunan nada yang mendayu dari gadis berambut panjang kecoklatan yang tepat disebelahnya. Suara riuh penonton yang menyatukan respirasi mereka dalam sesak. Dibawa mereka seakan bersorak bahagia diatas tangis hatiku.

“Eh Ve kenapa diem aja disini, yuk turun kebawah liat Festival Band” Ajak Salsa
“Iya kayaknya seru, liat deh Ka Hans sama Ka Felly cocok serasi banget deh mereka berdua” Sambung Lita
“Ya iyalah secara merekakan emang pernah jadian”
“Ouuwwh mungkin sekarang mereka”
“CLBK” Tungkas mereka berbarengan seraya saling menatap

Ya.. seakan ucapan mereka bagai sembilu mengiris isi hatiku.
Sakit
Perih
Pilu

Ya itulah yang kini melukis hatiku. Rasanya ingin aku menggbrak pentas di bawah sana dan mengatakan kepada semua orang yang ada kalau Kak Hans yang tak lain adalah kakak tingkatku itu adalah MILIKKU. Huuuhh tapi, ya sudahlah aku sendiri yang memintanya yang untuk merahasiakan semua hubungan kami. Aku tak ingin hubungan kami menjadi konsumsi semua mahasiswa kampus ini terlebih Kak Hans adalah cowok populer dikampus ini.

Beruntung sempat memilikinya, bukan karna aku hanyalah wanita biasa dan mendapatkan sosok pangeran kampus seperti Hans tapi aku merasa beruntung karna bisa memiliki pria yang sangat aku cintai sejak dulu, pria dengan sejuta pesona. Dialah sosok yang bisa membuatku bahagia.
Ahh sepertinya tidak juga. aku tak seberuntung itu, kini aku merasa terluka atas cinta diam-diam ini

Tap
Tap
Tap

Kami turun berbarengan menapaki anak tangga dan kemudian aku merasa ada susuatu yang menganjal di kakiku.

DAN

“Aww” Pekikku kesakitan dan tangan kananku cekatan menopang tubuhku yang sudah tak memiliki keseimbangan lagi.

Semua mahasiswa menatapku dengan penuh keanehan, kemudia tawa mereka menyeruak bersamaan dan membuat alunan musik syahdu yang dilantun Kak felly mendadak berhenti. Mataku hanya berpusat pada wajah Hans yang memerah padam ia bangkit dari posisi duduknya tadi. Ya Tuhan sepertinya ia sangat kesal dan sangat malu memiliki kekasih bodoh sepertiku, desir batinku memuncak.

Aku mencoba bangkit dengan perasaan yang seakan akan runtuh. Sepotong hati yang telah hancurlayaknya potongan puzzel itu kucoba susun rapi dan kubalut dengan senyum tipis. “Maafin aku Hans, aku tidak pantas menjadi kekasihmu” Bisiku dalam hati.

“Ve !! Kamu mau kemana ?” Bentaknya
Aku hanya mematung memalingkan wajahku darinya, sungguh aku tak sanggup melihat wajah itu. Jangan mendekat ! jangan mendekat hans pintaku berbisik, jangan melihat kebodohanku lagi, batinku kian teriris.
“Ve!” Panggilnya dan mendekatiku, seketika aku menepis tangannya
“Sudahlah Hans” Tegasku yang kini masih bicara membelakanginya, kristal bening mencoba menerobos panjdanganku tapi sekuat tenang aku menahannya
“Kamu mau kemana Ve, lihat tanganmu berdarah” Ucapnya lembut menarikku dan membenamkanku tubuhku dalam pelukannya.

“WHAAAAATTTT!” Mungkin seuntaik kata itulah yang melintas dalam benakku dan semua mahasiswa yang kini melihat kelakuan Hans. Aku meronta melepaskan tubuhku dari cengkraman pelukan erat Hans.
“Lepaskan aku Hans” Ucapku berbisik
“Gak akan! Dasar gadis ceroboh” Ia menarik tanganku dengan kasar dan menghapus darahku dengan Kemejanya putihnya. Terlihat bercak darah segar yang mengalir dari kedua telapak tanganku melekat dikemejanya.
“Ya Ampun Hans Jangan lakukan ini”
“Panggil aku KAKAK” Ucapnya mendekati wajahnya, yang membuat rasa takut menyusup dicela otakku, memang aku tak ingin memanggilnya kakak padahal ia 2 tahun lebih tua dariku.

Kini Ia menyeret tubuhku bergerak menuju panggung.

“Lepaaaaskaan aku Hans” aku terus menarik tanganku dari cengkramannya tapi sepertinya sia-sia tenaganya terlalu besar untuk ku tandingi.
“Kak Hans Please! Jangan lakukan ini”
Matanya mengembang, semerbak berbinar mendengar ucapanku tadi.
“Memangnya ucapanku ada yang salah” ucapku bingung
Ia menarikku lagi, Hans..Hans apa yang pria ini akan lakukan.

Semua mata kini menatap kami di atas panggung. Aku hanya menunduk malu, aku tak mengerti apa yang akan dilakukan Hans.

“Baiklah semuanya, disini saya Cuma mau bilang kalau Ve, ya Vennya Ramda ini adalah kekasihku”
Hah! Apa yang ia katakan, ucapku kaget. Seketika wajahku memerah. Ia benar-benar sudah menjadikan aku seperti dagangan pasar malam, seperti menjajajarkan udang goreng disekitar keramaian.
“Jadi jika kalian mentertawakan orang yang sangat aku sayang seperti itu tadi aku sangat-sangat tidak akan rela”
Tak henti-hentinya aku menggeleng kepala mengisyaratkan agar ia menghentikan kekonyolannya.
“Dan Buat kamu Ve sayaaang!!!. Sudah saat nya mereka semua tahu kalau kamu itu adalah milikku. Aku tahu kamu sangat geram saat mereka bicara a, b, c, dan sebagainya tentang aku sama Felly. Sekali lagi saya tegaskan saya tidak ada apa-apanya dengan felly, kami hanya satu Band. Bukankah begitu Felly ?”
“Ya benar sekali” Sambung Felly
“Jadi karna kalian sudah mentertawakan Ve dan juga saya melihat ada yang mencibirnya. Sekarang kalian minta maaf dengan Ve” Ucapnya dengan suara lantang memecahkan keheningan yang masih membias dilapangan ini.

Lama mereka mematung dan beberapa pasang bola mata mereka saling beradu, kemudian mengisyaratkan sesuatu.
“OK”
“Sorry ya Ve” Ucap mereka serentak
Aku hanya mengangguk lega.
“Ya udah gimana kalau sekarang kita suruh bassis kita ini yang nyanyi, setuju gak” Ucap felly mecoba mencairkan suasana
“SETUJU” ucap mereka serentak yang membuat Hans tegelalap kaget.
“Gak-gak aku gak bisa nyanyi he he” Ia membentang tangannya mencoba menolak lalu berinisiatif menarik tangan ku turun dari panggung ini, dengan erat ia melrangkul ku menembus kerumunan mahasiswa. Oh Tuhan sepertinya burung-burung juga ikut berkicau bahagia mengiringi perasaan yang mengukir hatiku.
Akhirnya kami sudah merobohkan tabir rahasia cinta diam-diam ini.

END

CINTA TAK TERDUGA

*tingtong* suara bel rumah ku berbunyi , segara saja aku turun ke bawah untuk membuka kan pintu

" Selamat pagi mba , ini ada kiriman . Silahkan tanda tangan disini " seorang tukang pos mengantarkan surat kepadaku

" Iya , ini mas terimakasih "

Setelah pengantar surat itu pergi langsung saja aku membuka surat itu . Ternyata isinya surat pertunangan sahabat aku . Hanif lathif W & Zahraini annisa .

" Yaampun mereka tunangan ? Ga nyangka aku mereka secepat itu bertunangan " ucapku dalam hati

Aku jdi ingat kejadian 8tahun kebelakang , saat aku masih duduk di bangku SMA ...

***

Hanif adalah kaka kelas satu tingkat di atasku , sedangkan zahra adalah teman satu angkatan denganku . Aku bersahabat baik dengan zahra maupun hanif ..

Zahra bertampang cuek , agak slebor ,ceria , easy going deh . Cuma kalo udah marah , gada satu orangpun yng bsa nenangin dia .
Sedangkan hanif kaka kelas bertampang teduh , lembut , agak rese tapi baik banget ..

***

" Hoy ! Bengong aja lo din " zahra mengagetkanku

" Haha eh lo broo , gak bengong kok . Mana kak hanif ? Tumben lo sndirian "

" Oh hanif , lagi belajar di kelasnya
mau ada ulangan katanya hbs istraht ini . Kantin yuuk din , lapeerrrr "

" Ohh , ayooo . Gue taro buku dlu ya ke kelas "

" Yaudh buruan "

Selesai aku menaruh buku di dalam tas , aku dan zahra langsung saja menuju kantin ..

" Din , tuh si vani kan ?? Kok sendiri aja ? "

" Iyaaa ra , ayoo samperin "

Aku dan zahra mendekati vani

" Van , knpa ? Tumben sendiri ?? "

" Eh zahra , dina . Aku gapapa kok "

" Ih vani jangan bohong , jujur sama kita . Kita kan sahabat kamu van " sambung dina

" Nanti aja ya aku crtanya pas pulang sekola , aku ke rumahmu yaa zahra "

" Yaudh , gapapa kok van . Yaudh aku tunggu ya nnti "

Istrahat selesai , aku , zahra dan vani kembali ke kelas masing - masing ..
Selesai pelajaran terakhir aku dan vani langsung ke kelas zahra , dan ternyata kak hanif sudah ada di dpn kelas zahra

" Nif , hri ini aku pulang sama dina + vani ya , mrka mau ke rumah aku . pulang sndiri gapapa kan ? "

" Yaudh deh ra gapapa , ati ati yaaa "

" Iya nif "

***
Tak lama mereka menunggu supirnya zahra , selama perjalan vani masih saja menangis . Zahra dan dina bingung , ga ngerti ada apa dengan vani ..

Sesampainya di rumah zahra , zahra langsung mengajak vani dan dina menuju kamarnya ..

" Oke skrg udh ada di kamar gue , skrg lo crta apa yang terjadi van ? Gue sama dina sumpah bingung banget"

" Din , lo tau kan temen sd kita si agus + rani ? Lo tau kan gue suka sama agus dri dlu ? "

" Ya , kenapa emangnya ?"

" Mereka jadian din , lo bayangin pdahal rani tau banget gue suka sama agus dri dlu , sakit ga sih hati lo ? "

" Yaampun , cuma gara2 itu lo td diem + nangis ga jelas di kantin van ?"

" Lo gatau rasanya gitu ra , kalo si rani gatau perasaan gue ke agus gue ga jdi soal tapi dia tau perasaan gue ke agus zahra "

" Sudah sudah , sabar ya van , masih banyak laki2 selain dia"

***

3bulan setelah kejadian vani menangis di rumah zahra , vani mendapatkan pacar ..

" Ra , mau nanya dong " kata dina
" Apa din ? "
" Lo sama kak hanif pacaran gak sih ? Kok deket banget ?"
" Gue sama hanif ? Engga din . Kenapa ? "
" Gapapa sih"
" Kenapa sih ? Lo suka sama hanif ?"
" Eemmm , iya . Tapi kayaknya kak hanif sukanya sama lo deh ra "
" Tau drimana sih dinaisa sayang ?"
" Dari cara ka hanif ngomong sama lo , cara kak hanif liat lo tuh beda banget "
" Dinaisa dengerin gue ya , gue sama hanif gada hubungan apa apa . Lo bisa kalo lo suka sama kak hanif"
" Gue malu ra "
" Kenapa malu ? "
" Gue malu aja , gue ga pd"

***

Setelah percakapan tadi siang , zahra menelpon hanif untuk membicarakan soal td siang

" Nif , sibuk ga ? "
" Engga kok zahra , kenapa ? Tumben"
" Nif , dina suka sama kamu "
" Dinaisa ?"
" Iya dinaisa ,"
" Zahraini anisa , aku suka sama cewe . Aku ga suka sama dia "
" Nif , coba dlu dina baik kok"
" Ra , perasaan gabisa di paksa"
" Kamu suka sama siapa ?"
" Belum saatnya kamu tau ra"

Zahra , jdi kepikiran trus masalah ini ..
Dia gamungkin bikin dina kecewa , cuma kalau zahra ga bicarain msalah ini ke dina pasti dia bakal kecewa ..

Keesokan harinya di sekola , zahra bru saja masuk kelas . Gak lama kemudian hanif dtg ke kelas zahra

" Ada apa nif "
" Aku mau ksh ini ke kamu , tapi bukanya di rumah ya "
" Kenapa ? "
" Yaudh aku bilang buka di rumah ya di rumah aja"
" Yaudh thanks nif"
" Ya sama sama , aku kelas ya "

***

selama di sekola rara msh memikirkan apa yang di kasih oleh hanif . Pas bel pulang zahra sangat lega ..
Di perjalanan pulang pun zahra tak sabar ingin cepat sampai rumah . Setibanya di rumah zahra lgsg naik ke kamarnya

Zahra langsung membuka kotak yang di kasih hanif tadi pagi , begitu zahra membuka kotak itu , betapa terkejutnya zahra melihat isinya . Di dlamnya ada 6lembar foto seorang cewe dan cowo , bermesraan .. Cowo itu adalah Gio , cowo yang zahra suka . Emang zahra srg brcrta kpd hanif ttg gio . Rasa marah , kesal , kecewa , pengen nangis bercampur jd satu di dlm diri zahra ..
Zahra menelpon hanif , untuk menanyakan prihal foto tersebut

" Nif , kamu dpt drmna foto itu"
" Aku liat sndiri ra , kmrn sore "
" Apa mksd kamu ? Ngasih itu semua"
" Ra , kamu peka dong , gio bukan cowo terbaik buat kamu ! Gio itu playboy . Kamu tau siapa cewe itu ? Cewe itu RANI ! Sahabatnya dina + vani ."
" Nif , maafin aku . Aku bego , aku bodoh sayang sama orang yang salah . Makasih ya nif kamu udh bikin aku sdar siapa dia"
" Apa pun bakal gue lakuin asalkan itu buat lo tersenyum Ra , ra kamu pengen tau siapa wanita yang aku suka "
"Siapa nif ?"
" Itu kamu zahraini anisa "
" Aku juga sayang kamu hanif lathif wijaya"

Setelah kejadian itu zahra dan hanif semakin dekat dan mereka menjalin hubungan , Aku sebenarnya ingin marah melihat zahra dan hanif pacaran . Tapi aku ga ada hak buat marah . Ini bukan salahku ataupun salahnya hanif ..

Perlahan aku mulai bangkit untuk membuang perasaanku pda hanif , aku bisa membuang perasaanku pada hanif sangat cepat . Di karenakan aku menemukan sosok pengganti hanif .
Andiansyah Saputra

***
Acara pertunangan hanif dan zahra di selenggarakan tepat di hari jadi merek yang ke 4tahun ..
Acaranya cukup meriah dan mewah .. Sosok hanif tetap seperti hanif yang dlu lebih tampan dengan balutan stelan jas putih , dan zahra kebaya putih ..

setelah acara selesai , aku menghampiri zahra dan hanif

" Selamat ya ra , ka hanif . Turut bahagia " ucapku tulus
" Thanks dina , kapan nyusul tunangannya" godaku
" Tunggu tanggal maennya ya ra " jawab andi
" Cinta persahabatan tak lekang oleh waktu" ucap hanif

Kami berempat tertawa bahagia bersama , beruntung punya mereka yang aku sayang , dan mereka yang sayang ak

AKHIR SEBUAH PENANTIAN

Aku hidup bukan untuk menunggu cintamu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.

Pagi ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku. Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.
“Idaaa, tunggu !”

Aku pun melihat ke belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku penasaran.

“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !”

“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni tarinya”

“Ya telat dikit kan gakpapa”.

Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan kata-kata Raffi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.
***
Hari ini aku sengaja berangkat pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak antara rumah dan sekolah dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan kata-kata Raffi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.

“Heyhey, mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku.

“Ha? Aku gak mikirin apa-apa tuh!”

“Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata Raffi kemaren?”

“Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi trus kalian ngejek gitu, ahh gak asyiik”

“Yaya, Cuma bercanda kok”

Tiba-tiba Raffi datang menemuiku. Entah apa lagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.

“Daa, ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi.

“Ahh, engga ahh, biarin aja dia samperin”

“Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” Ucapan Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara Raffi.

“Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak bilang-bilang?”

“Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain”

Bel masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, jarak rumah deket.

“Ciiye Idaa” goda Layla

“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.

“Tuh, orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang mau ketemu kamu.”

“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”

“Dia Tyo, anaknya pendiem banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”

Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang, dalam perjalananku aku memfikirkan semua hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Tyo, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temennya? Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.
***

Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar Tyo, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia aja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh hati pada Tyo, “ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh” kata itu selalu muncul di benakku.
Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh mungkin inikah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.

Setelah kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu, tapi aku tidak pernah pecaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap begitu banyak padanya.

Hari ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Tyo mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.
***

Malam ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti mengerti disetiap mimpi dan harapanku.

Setelah selesai aku pun tidur. Hari ini aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku juga ingin melihatnya lebih awal, hehe. Aku datang pertama di sekolah, datang pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah selesai, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang mengetuk pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku yang bingung, langsung saja aku menurut.

“Nich surat dari Tyo!” kata Imma sambil memberikan surat dari Tyo.

“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”

“Iyaa, baca aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia gak bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.”

“Iyaa, makasiih udah ngaterin suratnya, aku titip salam buat dia”

Seketika aku menangis, air mata ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku. Lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya. Aku masuk kelas dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua tidak pernah terjadi.

“Ada apa sih, Yuk?” Tanya Ega.

“Di.. dia.. dia udah jawab semuanya” kataku terbata-bata

“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak pernah ada apa-apa?”

“Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang nganter harus Imma, dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang nganter?”

“Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu gak Cuma satu kok, gak Cuma dia doang”

“Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil mengusap air mataku

“Iya sama-sama”
***
Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan, tapi ternyata hal itu membuat kita menjadi bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya pasrah, aku menangis, bagaimana tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata telah membuatku menangis.

Aku berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu menjadi sebuah kenangan masa SMP kita.




TAMAT